Hashim: Anak Muda Lebih Percaya Like daripada Fakta, Ini Bahaya Bagi Demokrasi


Hashim menyampaikan apresiasi kepada FORMAS dan SMSI karena berperan menyampaikan fakta dan kebenaran di tengah derasnya informasi di media sosial. Pada Kamis (27/8)
TEROBOSHUKUM.CO.ID – JAKARTA. Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pembina FORMAS (Forum Masyarakat Indonesia Emas), menyoroti tantangan besar media dan masyarakat di era digital saat menghadiri pengukuhan Pokja News Room “Jaga Desa”, di gedung Dewan Pers di Selasa. (27/8)
Dalam sambutannya, Hashim menyampaikan apresiasi kepada FORMAS dan SMSI karena berperan menyampaikan fakta dan kebenaran di tengah derasnya informasi di media sosial.
“Anak Muda Sekarang Lebih Lihat Like, Bukan Kebenaran”
Hashim menilai generasi milenial dan Gen Z lebih banyak memperhatikan media sosial dibanding media mainstream.
“Yang dipakai itu etika dan kebenaran adalah orang yang like. Ini kelemahan dari undang-undang, karena di medsos kita tidak tahu siapa pemegang akunnya,” ujarnya.
Menurutnya, media yang memiliki standar dan kode etik wartawan kini kalah bersaing dengan konten di TikTok dan platform lain yang identitas pengunggahnya tidak jelas.
Hashim juga menyinggung adanya dugaan demo yang digerakkan karena dibayar sponsor, bukan karena ideologi.
“Saya kaget waktu diberitahu. Ada fitur di TikTok yang membolehkan kehadiran seorang pendemo. Yang penting bawa handphone dan TikTok. Karena hadir di situ akan dibayar sponsor. Identitasnya kita tidak tahu,” katanya.
Ia mencontohkan, berita yang menyebut 50.000 orang demo di DPR bisa jadi faktanya hanya 50 orang yang disebarluaskan seolah-olah besar.
“Ini tantangan kita. Apakah betul 50.000 orang, atau hanya 500 orang? Tugas media dan FORMAS adalah menegakkan kebenaran dan fakta,” tegasnya.
Luruskan Isu Harga BBM dan Program Pemerintah
Hashim juga meluruskan isu harga BBM. Ia menyebut harga BBM tidak ditentukan oleh Presiden Prabowo Subianto, melainkan faktor eksternal global.
“Harga BBM tinggi bukan hanya di Indonesia. Di Thailand, Vietnam, Filipina justru lebih parah. Ini ditentukan pasar internasional,” jelasnya.
Ia menegaskan tugas utama FORMAS dan SMSI adalah mengawal program-program pemerintah agar sampai ke akar rumput, termasuk meluruskan disinformasi terkait program MBG.
Hashim juga mengaku sering “cerewet” mengingatkan pemerintah jika ada indikasi penyimpangan. Ia mencontohkan telah menyampaikan data lengkap kepada Presiden Prabowo hingga ada pejabat yang dicopot.
“Saya bersaksi, beliau orang berintegritas. Sampai sekarang saya belum dapat surat minta sponsor dari beliau,” puji Hashim.
Ia menutup dengan harapan agar FORMAS terus berfungsi menjaga kebenaran dan tidak terjebak menyebar fitnah.
“Di negara maju juga sama masalahnya. Tugas kita menyebarluaskan fakta dan kebenaran melalui sosial media,” pungkasnya. (fjr)
