PWI Bekasi Raya: Bupati Bekasi Layak Disebut “Raja Tega” atau “Raja Bongkar”?

PWI Bekasi Raya menyerukan kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menyeimbangkan keberanian dengan empati, aturan dengan solusi, dan ketegasan dengan keadilan sosial. Pers akan terus mengawasi, mencatat, dan menyuarakan suara rakyat.


PWI Bekasi Raya: Bupati Bekasi Layak Disebut “Raja Tega” atau “Raja Bongkar”?


TEROBOSHUKUM.CO.IDKABUPATEN BEKASI Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, S.H., memberikan refleksi kritis terkait julukan “Raja Bongkar” yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kepada Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang. Julukan ini diberikan dalam konteks penertiban bangunan liar tanpa kompensasi.

Ade Muksin menilai bahwa keberanian dan ketegasan kepala daerah dalam menegakkan aturan memang perlu diapresiasi. Namun, ketegasan tidak boleh menanggalkan rasa keadilan sosial dan kemanusiaan. “Bangunan bisa dianggap liar, tetapi tidak semua yang mendiaminya adalah pelanggar. Ada masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari warung sederhana atau tempat usaha kecil-kecilan,” ujarnya.

Jika aturan ditegakkan tanpa solusi kemanusiaan, maka ketegasan itu bisa berubah menjadi ketegaan. Ade Muksin mempertanyakan apakah Bupati Bekasi layak dijuluki “Raja Bongkar” atau sebenarnya “Raja Tega”. Julukan itu bisa menjadi kebanggaan, namun juga bisa menjadi kritik tajam dari sejarah dan nurani publik.

PWI Bekasi Raya menyerukan kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk menyeimbangkan keberanian dengan empati, aturan dengan solusi, dan ketegasan dengan keadilan sosial. Pers akan terus mengawasi, mencatat, dan menyuarakan suara rakyat.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *